by

KORUPSI BAGIAN DARI RITUAL DEMOKRASI

-Ragam-187 views

Sb.com

Akhir-akhir ini, marak korupsi yang di lakukan pejabat negara, padahal situasi saat ini, ekonomi merosot akibat terjangan CORONA VIRUS, tak tanggung-tanggung, mentri sosial yang seharusnya jadi yang terdepan dalam menjaga situasi sosial ekonomi di masyarakat di tengah pandemi, malah juga menjadi yang terdepan menggarong uang rakyat, belum lagi kasus menteri yang lain, dan pejabat daerah lainnya, seakan jeratan hukum yang sudah di atur dalam undang – korupsi hanya dianggap seperti bumbu bagi negara yang berdaulat, yang seiring berjalannya waktu, pemerintah berusaha menekan dan memberantas praktek haram tak bermoral tersebut!.

Namun begitu masih banyak, bukan hanya ada, pejabat yang berusaha mencari kesempatan dalam situasi buruk dalam negri tercinta kita ini.

Demokrasi seumur jagung yang sedang di jalankan di negara ini, seakan harus menuai tumbal dalam menjalankannya, maklumlah sebelumnya sering terjadi hal yang sama!(KORUPSI) wajar saja, sepertinya aktifitas apapun tanpa terkecuali di negeri ini, tidak akan licin dan mulus tanpa pelicin/(Fulus),birokrasi pun seakan jadi medan ritual awal dalam praktek haram tersebut”

Pertanyaan masyarakat dengan selalu terjadinya hal tersebut, seakan ini, bagian dari ritual demokrasi yang sedang di jalankan, jika kita menimbang aspek dan hal awal kenapa terjadi hal tersebut, mungkin juga karena duduk di suatu jabatan penting di negeri ini, tidak cukup kepintaran dan kecerdasan yang di miliki pejabat, dan tidak pula cukup keringat yang di keluarkan untuk berbakti terhadap negara, tapi yang membuat semua itu cukup, adalah aspek utama, yaitu fulus, suap menyuap dalam satu posisi nyaman haruslah menjadi syarat utama.

Bayangkan sejak belajar menjalankan demokrasi, seseorang untuk maju sebagai bupati saja, berapa banyak dana yang di keluarkan, apalagi gubernur juga jabatan lain di negeri ini, semahal itukah harga sebuah DEMOKRASI?… Padahal hakekatnya mereka duduk di satu jabatan hebat adalah untuk berjuang bagi kepentingan bangsa dan negara, juga wakil rakyat, berapa banyak uang yang di keluarkan dengan satu tujuan mewakili suara rakyat. Yang pada akhirnya practicelah yang mereka harap dan banggakan, selebihnya modal (finansial) yang sudah di keluarkan haruslah juga kembali dan berharap lebih dari yang di keluarkan, itulah hakekatnya demokrasi yang sedang berjalan saat ini.

Akankah negeri ini keluar dari ritual demokrasi seperti saat ini, dimana disisi yang lain rakyat kita menderita secara ekonomi dan sosial di tengah pandemi konspirasi ini?… ataukah ada cara lain dalam mengurangi dan mencegahnya, padahal pemerintah sudah mengutak atik undang-undang korupsi, ataukah para pelaku selalu mempunyai dan mempersiapkan pola baru dalam tindak kejahat korupsi ini? Dan ataukah konsekwensi yang di terapkan tidak sama sekali membuat mereka jera, atau yang lebih buruh, setiap perubahan aturan dan revisi undang-undang, malah membuka peluang bagi pihak-pihak tertentu untuk melakukannya dangan menerapkan pola- baru tersebut,namun demikian bangkai tetaplah bangkai, kejahatan apapun tidak akan bisa berjalan dengan sempurna, sebab hakekatnya dunia diperuntukkan bagi manusia yang bermoral dan bukan perusak kehidupan, tapi banyak menusia nekat menjadi perusak kehidupan itu sendiri walaupun sudah mengenal peradaban dalam berketuhanan. ( Ali Alhabshyi ).

News Feed