by

Sidang Penggelapan, Investasi Bodong Oleh  Terdakwa Monang Saragih di PN Bandung

www.suarabangsaku.com

Kasus penipuan dan penggelapan dengan terdakwa Monang Saragih kembali digelar di Pengadilan Negeri Bandung, Selasa 29 Oktober 2019. Dalam sidang tersebut, dihadirkan 10 saksi yang menjadi korban penipuan dengan kedok Kopjaskum (Koperasi Jasa Hukum).

Beberapa saksi mengaku mereka percaya dan tergiur berinvestasi karena Monang Saragih seorang pengacara. Mereka awalnya percaya Monang Saragih tidak akan melakukan perbuatan melawan hukum karena seorang pengacara dan mengerti hukum.

Dalam sidang yang dipimpin Toga Napitupulu, korban mengaku tergiur berinvestasi setelah mendengar iklan dan ajakan yang disiarkan di Radio Mora FM. Mora FM merupakan stasiun radio milik Monang Saragih yang juga seorang pengacara senior.

Dalam siaran radio tersebut, Monang Saragih secara terang terangan mengajak berinvestasi penanaman kesemek dan pohon jabon dengan iming-iming bagi hasil.

“Saya mendengar dari radio Mora, (Monang Saragih) mengajak berinvestasi, istilahnya kaya bersama. Karena ajakan itulah, saya berinvestasi di Kopjaskum sebesar Rp 30 juta,” kata Endang Nurhayati saat menjadi saksi di depan majelis hakim Pengadilan Negeri Bandung.

Saksi lainnya, Imanuel, Nana sutarna, Nanang, dan Diki mengakui hal yang sama, tergiur dengan bagi hasil yang besar sehingga mereka tertarik berinvestasi di Kopjaskum. Nilai investasi para saksi bervariasi mulai dari Rp 15 juta hingga Rp 30 juta.

Para saksi mengaku, apa yang dijanjikan Monang Saragih bohong belaka. “Pernah sekali mendapatkan keuntungan tapi ke sananya tidak ada, meski sudah ditagih berkali-kali,” ujar Nanang dan saksi lainnya.

Menanggapi keterangan saksi, Monang Saragih yang dalam kasus ini tidak didampingi pengacara, menyatakan keterangan saksi benar adanya. “Semua yang dikatakan saksi benar, Pak Hakim,” ujar Monang Saragih.

‎Dalam dakwaan jaksa penuntut umum, Monang didakwa melakukan perbuatan melawan hukum menguntungkan diri sendiri dan orang lain dengan rangkaian kebohongan, menggerakan orang lain sebanyak 152 orang untuk menyerahkan uang senilai Rp 5,6 miliar kepada terdakwa.

“Dengan cara mengajak anggotanya untuk mengikuti investasi budidaya kesemek dan jabon namun faktanya tidak sejalan dengan yang dijanjikan,” ujar jaksa Angga Insana Husri.

Monang selama ini dikenal sebagai praktisi hukum. Saat menjalani sidang dakwaan, Monang tidak didampingi penasehat hukum.

Jaksa mengatakan, Monang menawarkan investasi jabon dengan biaya Rp 250 ribu untuk 4 pohon dengan jangka waktu 3 tahun mendapat Rp 3 juta. Monang juga membuka KJH dengan simpanan pokok pertahun Rp 200 ribu sejak 2014.

“Terdakwa Monang Saragih menjanjikan keuntungan masing-masing sesuai dengan besaran jumlah investasi diperhitungkan dengan jangka waktu lamanya dana investasi berada di KJH,” ujar Angga.

Namun, hingga waktu yang dijanjikan tiba, mayoritas anggota koperasi dan anggota tidak mendapat keuntungan hasil investasi yang dijanjikan.

Dari data yang masuk, jumlah anggota yang berinvestasi budidaya kesemek berjumlah 101 orang. Jumlah anggota koperasi yang berinvestasi hutan jabon dan kesemek 51 orang.

“Total kerugian yang digelapkan berjumlah Rp 5,685 miliar dari 152 orang,” ujarnya.

Di persidangan, puluhan orang anggota koperasi hadir di persidangan untuk mengawal. Salah satunya Desti (36) warga Kopo Kabupaten Bandung. Ia bersama suami sudah mengikuti koperasi sejak 2014.

“Dari 2014 akhir ikut sampai 2018. Setorannya berdua sama suami sudah sampai Rp 400 juta. Waktu 2016 pernah bagi hasil Rp 1,8 juta. Tapi setelah itu tidak pernah lagi bagi hasil,” kata dia.

Salah satu saksi, Jayusman mengaku ditawari investasi jabon dan kesemek. Namun ia tidak pernah mengetahui lokasi penanamannya.

“Saya ikut daftar investasi. Katanya untuk jabon dan kesemek, cuma memang saya tidak pernah melihat tempat menanamnya dan ternyata tidak ada bagi keuntungan,” ujar Jayusman.

(SB)

News Feed