by

Siasat Lawan Covid-19 ala Presiden Jokowi

Suarabangsaku.com

Presiden Jokowi telah merencanakan akan mengetatkan penanganan dan penanggulangan penyebaran Virus Covid-19. Kemarin mulai meninjau kesiapan fasilitas umum yang akan dioperasikan dalam New Normal, yaitu suatu tatanan baru kehidupan yang akan kita jalani dengan protokol kesehatan yang ketat.

Langkah tersebut dikritik oleh beberapa kalangan termasuk tokoh sekaliber Amin Rais, salah satu alasannya adalah bahwa New Normal tersebut bisa mengelabui masyarakat mengenai fakta yang terjadi. Tentu yang dimaksud adalah terkait dengan dampak yang dialami diberbagai bidang kehidupan terutama di bidang ekonomi yang sangat merasakan kerugian sebagai akibat wabah Covid-19.

Lepas dari kritikan Amin Rais, sesungguhnya Presiden Jokowi sangat konsen untuk menyelamatkan keterpurukan negeri ini akibat wabah Covid-19. Keseriusan tersebut ditunjukkan diberbagai langkah yang dikuatkan dengan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 9 Tahun 2020 dan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 4 Tahun 2020 Tentang Percepatan Penanganan Coronavirus atau Covid-19, yaitu dengan melakukan realokasi anggaran kementerian dan lembaga hingga Rp 62,3 triliun. Sedangkan bagi pemerintah daerah bisa dialokasikan dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Dana Kas Daerah.

Jokowi juga menginstruksikan pemberian insentif sebesar Rp 5-15 juta dan santunan kematian sebesar Rp 300 juta bagi para tenaga kesehatan di wilayah berstatus darurat Covid-19. Selain itu juga telah melakukan beberapa langkah strategis yaitu mengubah Wisma Atlet Kemayoran Jakarta menjadi Rumah Sakit Darurat Corona yang berkapasitas tiga ribu pasien, lalu mengimpor alat kesehatan seperti alat rapid test. Juga melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan yang terkini adalah akan menerapkan tatanan kehidupan baru (New Normal) yang melibatkan aparat TNI dan Polri guna tegaknya “aturan” dalam perlawanan terhadap virus Covid-19 oleh manusia dalam menjalani hidupnya sehari-hari. Ini juga bisa berarti maksud Presiden Jokowi kita berdamai dengan Covid-19 itu untuk mematikannya, bukan sebaliknya. Mengapa? karena bila kita berdiam diri maka efek ketakutan atas virus Covid-19 bisa mematikan manusia secara perlahan-lahan tanpa melakukan perlawanan, berdiam terus di rumah saja, menunggu suplai bahan makanan tanpa mencarinya ke luar rumah. Hal ini yang membedakan dengan persepsi Jusuf Kalla (mantan Wapres) yang menganggap berdamai dengan Corona adalah berdampingan lalu kompromi untuk mencari solusi, sebagaimana pengalaman perdamaian dalam menyelesaikan konflik sosial di Poso dan di Aceh misalnya.

Apa yang dimaksud Presiden Jokowi dengan metode tatanan baru (New Normal) yang didalamnya ada unsur berdamai dengan Covid-19 adalah bagian dari strategi atau siasat, namun secara tidak langsung untuk mematikannya. Adalah membunuh musuh yang tak tampak dalam penerbangan guna mengurangi kematian manusia itulah esensi dari hidup berdampingan dengan Covid-19 dalam tatanan hidup baru (New Normal) ala Jokowi, ia high humanity. Strategi atau siasat mematikan musuh/lawan yang tak tampak tetapi terus-menerus menyerang dan bertujuan mematikan manusia dapat dipandang sebagai pengetahuan baru dalam ilmu politik.

Susunan tatanan baru (New Normal) dari Presiden Jokowi ini secara kasat mata cukup simpel tetapi maknanya cukup mendalam bila dilihat dari sudut pandang ilmu politik, adalah teori melawan dan memusnahkan musuh yang tak “tampak” tapi bisa mematikan, walau pada akhirnya manusialah yang memenangkan peperangan itu.*

 

Oleh: Burhanuddin Saputu, S.Pd, M.Si

Jabatan            : Ketum Bravo-5 Muda

News Feed