by

PENYAKIT BANGSA YANG UTAMA ADALAH KORUPSI, DIBUMBUI LAGI DENGAN MENTAL INLANDER

www.suarabangsaku.com

Yang sering terlintas di benak kita, tatkala berbicara dalam memberantas Korupsi, adalah “Bahwa bangsa ini jalan ditempat”, atau tingkat keberhasilannya, tidaklah signifikan.
Berbeda dengan di Singapura, misalnya, Berdaulat dua puluh tahun lebih muda, tapi daya saing (competitiveness index) jauh meninggalkan kita.

Bahkan, pada tahun 2014/2015, Singapura, menurut World Economic Forum, menempati peringkat kedua terbaik di dunia, hanya kalah satu strip dengan Swiss, Negara yang selalu teratas.

Sementara kita, dari 144 negara yang disurvei, berada di peringkat ke-34. Malaysia contoh lain lagi.

Tahun 70-an, mutu pendidikan Negeri Jiran ini berada jauh di bawah Indonesia, cukup banyak pelajar Malaysia yang menuntut ilmu di Indonesia, bahkan Indonesia pernah mengekspor guru ke Malaysia, dimana Malaysia juga pernah minta dikirim 800-an guru Matematika karena kemampuan berhitung kebanyakan siswanya benar-benar parah.

Hasilnya, hanya dalam waktu dua-tiga dekade, pendidikan mereka—termasuk di dalamnya pendidikan penerbangan —maju luar biasa. Dulu Malaysia mengirim pelajar ke Indonesia, kini yang terjadi sebaliknya. Tidak hanya itu, negara mereka juga lebih makmur.

Buktinya, jutaan warga Indonesia dengan sukacita bersedia menjadi TKI di Malaysia, bahkan dengan cara yang ilegal sekalipun.

Miris memang. Padahal, dari segi sumber daya alam, kita lebih segalanya. Dari segi umur, kita juga lebih dulu diberi kesempatan menghirup hawa kebebasan.

Lantas, mengapa Indonesia kini bisa tertinggal ?,…disebabkan, penyakit kronis bangsa, Korupsi, dan Mental Inlander ( yang diwariskan oleh kaum penjajah ), Kita mengidapnya selalu merasa tak berdaya dan menganggap bangsa lain pasti lebih hebat, mungkin dampak dari tiga setengah abad dijajah, dan cukup untuk menghancurkan mental sebuah bangsa.

Lihatlah, sekalipun kita sudah merdeka lebih tujuh dasawarsa, tapi residu mentalitas bangsa terjajah ini masih terpatri.

Bahkan di lembaga pendidikan tertentu, ada yang menganggap kurang kren dan top jika tidak menampilkan wajah bule di seluruh media reklame sekolahnya.

Benar-benar menyedihkan.
Untuk itu, agar bangsa ini bisa bangkit, mari kita mengukir sebanyak mungkin prestasi dan sebarkan, bahwa para pelajar kita juga banyak yang mencatatkan prestasi di berbagai ajang olimpiade sains dan matematika berskala internasional.

Belum lama ini dalam ajang Olimpiade Matematika Internasional 2019 di Inggris, kita meraih enam medali.
Berkat perolehan satu emas, empat perak, dan satu perunggu, Indonesia bisa menembus posisi ke-14 dari 110 negara peserta, bangsa ini mempunyai Joey Alexander, pianis jazz muda asal Indonesia ini ketika usianya baru 12 tahun (2016), namanya sudah masuk dalam daftar nominasi Grammy Awards dalam dua kategori sekaligus.

Di tahun 2017, ada Gregoria Mariska, gadis kelahiran Wonogiri, Jateng ini membanggakan negerinya dengan menjadi juara dunia bulutangkis junior, Minggu, 28 Juli 2019, “The Minions” Kevin/Marcus sukses mencatatkan hattrick di Jepang Terbuka 2019.

Dan masih banyak lagi prestasi-prestasi yang dicapai putera – puteri bangsa Indonesia, dan perlu diberitakan, jangan ruang publik malah dijejali berita usang, dan selalu bercerita kamuflase.

Mari kita bangun bangsa ini dengan beraneka ragam budaya, suku dan agama, Indonesia Bisa,
Indonesia Bangkit !, GPAB Bangkit !.

“Aku Adalah Mereka, Mereka Adalah Aku”.

News Feed