by

20 Tahun Inggit Garnasih, Mendampingi  Soekarno.

Inggit Garnasih lahir di Desa Kamasan, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, pada 17 Februari 1888, nikah dengan Nata Atmaja, seorang patih di Kantor Residen Priangan. Namun, pernikahan ini tidak bertahan lama dan berakhir dengan perceraian.
Pernikahan kedua Inggit, menikah dengan Haji Sanusi, seorang pengusaha dan juga aktif di organisasi Sarekat Islam,  diusia perkawinan ini, Inggit sering ditinggal oleh suaminya, dikarenakan kesibukannya di organisasi,

24 Maret 1923, Inggit Garnasih nikah dengan Soekarno,  ketika Soekarno masih menjadi mahasiswa Technische Hoogeschool te Inggit Bandoeng, ( Institut Teknologi Bandung ), beda usia dengan Inggit 13 tahun, namun dengan rasa cinta yang mereka miliki, tidak menghalangi Soekarno untuk menuju pernikahan, dan sebelumnya Inggit bercerai dengan Haji Sanusi, Inggit adalah ibu kost yang menampung Soekarno semasa kuliah di Bandung.

Selama 20 tahun, Inggit mendampingi Soekarno dan akhirnya berpisah 2 tahun sebelum Soekarno menjadi presiden.

Dan pada tanggal 1 Juni 1943, Soekarno menikah dengan Fatmawati. Usai Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945 dan Soekarno menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia pertama, dan Fatmawati menjadi first lady alias ibu negara.  Pada tahun 1960, Soekarno mendatangi rumah Inggit di Bandung untuk meminta maaf karena pernah melukai hati mantan istrinya tersebut. Disaat itu, Inggit mengatakan kepada Soekarno, “Aku sudah memaafkanmu, Pimpinlah negara dengan baik, seperti cita-cita kita dahulu di rumah ini,”.

Inggit Garnasih adalah Wanita yang Mengantar Soekarno ke Pintu Gerbang Kemerdekaan.

Inggit Garnasih yang selalu menyertai Soekarno di setiap kehidupannya, baik dalam proses menuju pendewasaan dengan berbagai dinamikanya. Ketika Soekarno ditangkap di Yogyakarta pada 29 Desember 1929 dan dijebloskan ke Penjara Banceuy di Bandung lalu dipindahkan ke Sukamiskin, Inggit tidak pernah lelah memberikan semangat kepada suaminya itu.
Setiap menjenguk Sukarno di penjara, Inggit kerap kali menyelipkan uang di dalam makanan yang dibawanya agar Sukarno bisa membujuk penjaga untuk membelikannya surat kabar. Selama Sukarno dibui, Inggit juga menjadi perantara suaminya agar bisa terus berhubungan dengan para aktivis pergerakan nasional lainnya.
Inggit juga sering membawakan buku-buku yang dibutuhkan Soekarno meskipun harus berhati-hati agar tidak ketahuan penjaga.
Selama Sukarno menjalani pembuangan ke Ende, Flores, sejak 1933, lalu diasingkan lagi ke Bengkulu sedari tahun 1938, Inggit selalu setia menyertai.
Soekarno wafat di Jakarta pada 21 Juni 1970, begitu mengetahui Soekarno telah mangkat, Inggit langsung bergegas menuju ke Jakarta, ke Wisma Yaso, rumah duka mantan suaminya itu.
Di samping jasad Sukarno, Inggit berucap dalam bahasa Sunda diiringi isak tangis yang sedikit tertahan. “Kus ( panggilan Inggit kepada Soekarno ), kiranya Kus mendahului, Inggit doakan…,” sampai di sini, kata-kata Inggit terhenti. Ia tak kuasa menahan kepedihan atas kepergian lelaki yang sangat dicintainya itu.
Inggit sudah sejak lama memaafkan Sukarno, seperti yang terucap saat pertemuan mereka di Bandung pada 1960 itu. Inggit memberikan maafnya juga kepada Fatmawati yang menemuinya pada 7 Februari 1984 dengan mediasi Ali Sadikin.
Kurang dari 2 bulan setelah perjumpaan penuh haru itu, Inggit meninggal dunia. Inggit Garnasih, istri terkasih Soekarno yang setia menyertainya dalam kondisi paling sulit sekalipun, wafat pada 13 April 1984, dimakamkan di TPU Porib, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung.

Penuturan Abah Oneng, Yang Merawat Makam Inggit Garnasih.

Sebagai bentuk rasa mengagumi dan rasa menghormati kepada Inggit Garnasih,  Abah Oneng Rohiman,rela mengabdikan separuh hidupnya untuk mengurus makam Inggit Garnasih, dan tinggal  ditempat pemakaman dengan luas sekitar 7×4 meter dikelilingi pagar tembok, di area tersebut juga terdapat makam tiga kerabatnya, salah satunya anak angkat Inggit, Ratna Juami.

Di mata Oneng, Inggit merupakan sosok vital dalam tonggak sejarah perlawanan Bangsa Indonesia. Inggit adalah pendamping Soekarno saat dalam masa pengasingan. Inggit pula yang menjadi sosok di belakang layar saat menyelundupkan koran dan buku sebagai kebutuhan informasi bagi Soekarno saat terkurung di Penjara Banceuy. Atas usahanya itu, Soekarno mampu menyelesaikan pledoi (pembelaan) yang berjudul ‘Indonesia Menggugat’. Pidato itu juga yang menjadikan Soekarno dijuluki ‘Singa Podium’. “beliau orang baik, beliau juga memperjuangkan Bangsa dan Negara tanpa pamrih, buat saya beliau sosok hebat, dan sudah layak mendapatkan gelar pahlawan, sayangnya beliau terkesan terlupakan”. Ujar Abah Oneng yang sudah 20 tahun menjaga makam Inggit Garnasih, Demi membalas jasa perjuangan Inggit Garnasih, Oneng senantiasa selalu menjaga kebersihan makam,dalam sehari, Oneng bisa sampai tiga kali menyapu dan mengepel makam, dia mengakui, banyak peziarah yang datang untuk sekadar mengingat jasa Inggit. “Banyak yang ziarah, dari Sumatra, Bengkulu, Samosir, dan Makasar, tetapi sekarang sudah kurang, hanya para penggemar Ibu Inggit saja yang datang,” ucap Oneng. Menurut Oneng, beberapa kerabat dari Soekarno pun kerap datang. “Soekmawati sama Rahmawati pernah datang sekali,” kata Oneng. Tiap kali peziarah datang, Oneng kerap menyuguhkan secangkir kopi atau the, hal itu merupakan kebiasaan Inggit yang dia tiru untuk membuat tamu betah saat berkunjung. “Ibu Inggit itu orangnya sangat senang menyuguhkan minuman atau makanan, dulu pas banyak kawan-kawan Soekarno datang ke rumahnya, Inggit selalu memberikan kopi atau teh,” ujar dia. Dia mengisahkan, pada awal tahun 2000-an, makam Inggit sempat hampir roboh karena luput dari perhatian Pemerintah. Namun, atas bantuan dari para pengagum Inggit, bangunan makam yang semula terbuat dari bambu dan bilik, diubah menjadi permanen. “Banyak yang membantu renovasi area makam. Mereka yang merasa punya hutang budi banyak sama Ibu Inggit, seperti Pak Cipto, Endang Karman, dan para pengagum Ibu Inggit yang peduli,” tutur dia. ( Red ).

 

 

 

News Feed